Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Ulumul Hadits, Perkembangan Hadits pada masa Rasulullah, Sahabat, dan Tabi'in.

 




علوم الحديث

Ulumul Hadist


BOODS.ID - Hadits adalah segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan sumber hukum. Hadits sebagai sumber hukum Islam kedua setelah Alquran memegang peranan yang amat penting dalam perkembangan Islam. Dari hadits lahirlah berbagai ilmu, termasuk ulumul hadits ini. Ilmu tentang hadits ini banyak dibahas oleh para ulama dalam berbagai kitab ulumul hadits, baik yang membahas hadits secara umum maupun khusus pada aspek tertentu saja, seperti perawi dan matan. Didalam ilmu hadits ini terdapat pula sejarah dan perkembangan hadits pada masa pra kodifikasi, keberadaan hadits sebagai salah satu sumber hukum dalam Islam memiliki sejarah perkembangan dan penyebaran yang cukup kompleks.

Dalam sejarahnya hadits mengalami perkembangan yang lebih lambat dan bertahap dibandingkan dengan Al-Qur’an. Hal ini terjadi karena pada masa Rasulullah masih hidup, penulisan hadits secara umum sangat dilarang, hal ini karena dikhawatirkan akan tercampur dengan Al-Quran, meskipun pada akhirnya Nabi Muhammad SAW membolehkan penulisan hadits. Dalam masa pembukuannya, hadits ini mengalami keterlambatan sampai pada abad II hijriah dan mengalami masa kejayaan / masa keemasan pada abad III - IV hijriah. Penulisan hadits secara mendiri pun sudah mulai dilakukan dengan intensif. Pada masa ini ulama-ulama hadits, seperti Imam Muslim, Imam Bukhari, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban banyak menghasilkan karya.

Perkembangan dan pengkodifikasian hadits dibagi menjadi 5 masa, yaitu pada masa Nabi Muhammad SAW, masa Sahabat, Tabiin, Tabi’ Tabi’in, dan masa setelah Tabi’ Tabi’in. Dalam makalah ini penulis akan mengupas bagaimana sejarah perkembangan hadits pada masa Rasulullah SAW, pada masa Sahabat dan pada masa Tabi’in.

Dalam artikel ini akan dibahas perkembangan hadits dari masa Nabi Muhammad Saw sampai masa tabi'in, seperti dalam rumusan berikut ini:

1. Bagaimana perkembangan Hadits pada masa Rasulullah SAW?

2. Bagaimana perkembangan Hadits pada masa Sahabat?

3. Bagaimana perkembangan Hadits pada masa Tabi’in?


Pembahasan.

Berikut ini pembahasan mengenai ulumul hadits: periode perkembangan hadits dari masa Rasulullah hingga masa tabi'in.

A. Perkembangan Hadits Pada Masa Rasulullah SAW

Pada periode ini sejarah hadits disebut ‘Ashr al-Wahyi wa at-Takwin (masa turunnya wahyu / Al-Quran dan pembentukan masyarakat Islam). Pada masa inilah, hadits kemudian lahir yang berupa sabda Nabi, Perbuatan Nabi, dan Ketetapan Nabi yang fungsinya adalah untuk menerangkan wahyu Allah yang turun (Al-Qur’an) serta menegakkan Syariat Islam dalam kehidupan masyarakat.

Pada masa ini hadits disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat dan masyarakat luas melalui khutbah, pertemuan antar kelompok, dirumah Nabi sendiri, dan bahkan di pasar ketika beliau sedang bepergian. Cara tersebut sangat efektif untuk penyampaian hadits. Perhatian para sahabat terhadap hadits sangat tinggi sehingga para sahabat mengingatnya dan menyampaikan kepada para sahabat lain yang tidak hadir dalam majlis. Demikian juga mereka yang tidak hadir dalam majlis-majlis Rasulullah keinginan mereka juga sangatlah tinggi dalam mencari informasi tentang apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW baik secara langsung ataupun melalui utusan.

Diantara mereka yang bergantian hadir dalam majlis beliau seperti yang dilakukan oleh Umar. Salah satu sahabat Umar RA berkata: “Aku bersama tetanggaku sahabat Anshar Bani Umayyah bin Zaid. Dia diantar oleh tokoh dari Madinah bergantian hadir di majlis Rasulullah SAW sehari dia yang hadir dan hari yang lain aku yang hadir. Jika aku yang hadir dalam majlis tersebut aku sampaikan kepadanya berita tentang wahyu dan yang lain kepadanya, demikian juga jika ia yang hadir.

Mereka sangat antusias dalam mencari ilmu (hadits) dan mereka juga taat pada perintah-perintah Nabi Muhammad SAW sesuai dengan sabda beliau:


 حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ أَخْبَرَنَا الْأَوْزَاعِيُّ حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي كَبْشَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Artinya: Telah bercerita kepada kami Abu 'Ashim adl-Dhahhak bin Makhlad telah mengabarkan kepada kami Al Awza'iy telah bercerita kepada kami Hassan bin 'Athiyyah dari Abi Kabsyah dari 'Abdullah bin 'Amru bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra'il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka" (HR.Bukhari).

Dengan demikian dapat kita pahami bahwa para sahabat Nabi pun menerima hadits dari Rasulullah melalui 2 (dua) metode yakni penyampaian secara langsung dari Rasulullah dan secara tidak langsung. Penyampaian secara langsung ini misalnya ketika Nabi Muhammad SAW memberikan ceramah, pengajian, khotbah, atau menjawab / menjelasan dari pertanyaan para sahabat. Sedangkan penyampaian secara tidak langsung dilakukan dengan cara mendengarkan dari sahabat lain atau dari utusan-utusan yang dikirim oleh Nabi SAW ke daerah-daerah atau utusan daerah yang datang kepada Nabi.

Hadits pada  periode ini pada umumnya hanya diingat dan dihapalkan saja, tidak ditulis seperti Al-Qur’an ketika disampaikan Nabi Muhammad SAW kepada mereka. Rasulullah SAW melarang keras penulisan hadits karena dikhawatirkan akan tercampur dengan Al-Qur’an. Hingga ketika jumlah umat Islam sudah bertambah banyak serta umat islam telah memahami perbedaan di antara Al-Qur’an dan hadits, larangan penulisan hadits pun telah gugur. Seperti dalam hadits berikut, yang artinya: Diceritakan dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah bersabda “Jangan kalian menulis (selain Al-Qur’an) dariku. Barang siapa yang menulis dariku selain Al-Qur’an hendaknya ia menghapusnya” (HR Muslim)

Selain itu, kepandaian baca tulis pada saat itu juga sangat terbatas, hanya sebagian kecil saja dari mereka yang pandai baca tulis, sehingga membuat Rasulullah Muhammad SAW lebih menekankan untuk menghapal, memahami, mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, serta menyebarkannya atau menyampaikannya kepada orang lain. Selain itu ada dorongan kuat yang cukup memberikan motivasi bagi para sahabat untuk menghapalkan hadits yaitu, pertama hafalan merupakan budaya bangsa arab dan mereka terkenal kuat hafalannya, kedua Rasulullah banyak memberikan spirit melalui doa-doanya, ketiga sering kali beliau menjanjikan kebaikan akhirat kepada mereka yang menghafal hadits dan menyampaikannya.

Namun dibalik larangan Rasulullah SAW dalam menulis hadits tidak sedikit dari sahabat yang menulis hadits untuk membantu hafalannya atau hanya diperbolehkan bagi para sahabat yang hafalannya kurang dan hanya untuk dirinya sendiri dan tidak untuk disebarkan kepada orang lain. Setelah ditulis kemudian harus dihapalkan sampai benar-benar hapal. Jika sudah hapal sepenuhnya, catatan-catatan hadits tersebut mereka bakar sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa sahabat.

Seperti dalam hadist berikut, yang artinya :

Diceritakan dari Abdullah bin ‘Amr, beliau berkata “Dahulu aku menulis seluruh yang aku dengar dari Rasulullah, aku ingin menghafalkannya, maka kaum Quraisy mencegahku. Mereka (kaum Quraisy) mengatakan “Apakah engkau menulis seluruh hadits yang engkau dengar (dari Rasulullah), padahal Rasulullah adalah manusia yang terkadang bersabda dalam keadaan marah terkadang dalam keadaan senang?” Maka aku menahan diri dari menulis (hadits Nabi). Kemudian, aku menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah, maka Rasulullah memberikan isyarat dengan jarinya kepada mulutnya, Rasulullah bersabda “Tulislah (hadits), demi Allah dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya tidaklah keluar darinya (mulutku) kecuali kebenaran” (HR Abu Dawud).

Dari hadits tersebut menunjukkan bahwa pelarangan penulisan hadist tidak sepenuhnya mutlak, akan tetapi diperbolehkan dengan alasan untuk membantu hafalan.

 

B. Perkembangan Hadits Pada Masa Sahabat

Periode ini disebut ‘Ashr-At-Tatsabbut wa Al-Iqlal min Al-Riwayah (masa membatasi dan menyedikitkan riwayat). Nabi Muhammad SAW wafat pada tahun 11 H, beliau meninggalkan dua pegangan dasar bagi pedoman hidup, yaitu Al-Qur’an dan Hadits (sunnah) yang harus dijadikan pedoman dalam seluruh aspek kehidupan umat islam.

Setelah Nabi Muhammad saw wafat, kendali kepemimpinan umat Islam berada di tangan sahabat-sahabat Nabi. Sahabat Nabi pertama yang menerima kepemimpinan itu adalah Abu Bakar as-Shiddiq (wafat pada 13 H/634 M) kemudian disusul oleh Umar bin Khatthab (wafat pada 23 H/644 M), Utsman bin Affan (wafat pada 35 H/656 M), dan Ali bin Abi Thalib (wafat pada 40 H/661 M). keempat khalifah ini dalam sejarah dikenal dengan sebutan al-khulafa al-Rasyidin dan periodenya biasa disebut dengan zaman sahabat besar.

Memasuki periode sahabat ini, yang dihadapi oleh umat Islam ialah persoalan orang-orang yang murtad dan pertikaian politik/perebutan kekuasaan. Para sahabat, utamanya Khulafaur Rasyidin tidak menyukai banyak periwayatan dari Rasul, takut terjadi kebohongan atas nama Rasul dan pembelokan perhatian umat islam dari Al-Qur’an kepada hadist. Oleh karena itu dengan pertimbangan yang matang Abu Bakar as - Shiddiq memilih untuk tidak membukukan hadits.

Pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab, periwayatan hadist tersebar secara terbatas. Penulisan hadits pun masih terbatas dan belum dilakukan secara resmi. Bahkan pada masa itu Umar bin Khattab melarang para sahabat untuk memperbanyak meriwayatkan hadits, sebaliknya Umar justru menekankan kepada para sahabat agar mengerahkan perhatiannya untuk menyebarkan Al-Qur’an.

Alasan Umar bin Khattab melarang para sahabat untuk memperbanyak periwayatan hadits adalah karena beliau sangat khawatir dapat menimbulkan tasyabbuh/menyerupai ahli kitab yakni Yahudi dan Nashrani yang meninggalkan kitab Allah dan menggantikannya dengan kalam/perkataan mereka dan menempatkan biografi para Nabi mereka di dalam kitab Tuhan mereka. Umar khawatir jika memperbanyak periwayatan hadits akan membuat umat Islam meninggalkan Al-Qur’an dan hanya membaca hadits saja. Tapi bukan berarti Umar melarang pengkodifikasian hadits, habya saja melihat kondisi pada masanya belum memungkinkan untuk membukukan hadits.

Dalam periode para sahabat ini penyampaian periwayatan dilakukan secara lisan dan terbatas, hanya jika benar-benar diperlukan saja yaitu ketika umat Islam benar-benar memerlukan penjelasan hukum. Walau demikian, mereka sangat selektif dalam menerima hadits dan menguji kebenaran atau kesahihan hadits tersebut.

Setelah masa khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khatab berakhir, periwayatan Hadits kemudian dilanjutkan oleh Utsman bin Affan. Akan tetapi langkah Utsman tidaklah setegas langkah pendahulunya yaitu Umar bin Khatthab. Utsman secara pribadi memang tidak begitu banyak meriwayatkan hadits. Ahmad bin Hambal meriwayatkan hadits nabi yang berasal dari riwayat Utsman hanya sekitar empat puluh hadits saja. Hal ini dikarenakan beliau lebih banyak terjun dalam bidang politik.

Utsman melalui khutbahnya menyampaikan kepada umat Islam agar lebih berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Akan tetapi seruan Utsman bin Affan tersebut tidak begitu besar pengaruhnya terhadap para perawi-perawi yang bersikap longgar dalam periwayatan hadits. Hal tersebut terjadi karena selain pribadi Utsman yang tidak sekeras pribadi Umar, hal ini juga karena wilayah kekuasaan Islam semakin luas. Luasnya wilayah Islam inilah yang mengakibatkan bertambahnya kesulitan dalam pengendalian kegiatan periwayatan hadits secara ketat.

Tercatat pada masa sahabat ini ada 6 orang diantara para sahabat yang tergolong banyak meriwayatkan hadits, diantaranya: 

1. Abu Hurairah sebanyak 5.374 hadits.

2. Abdullah bin Umar bin Al-Khathab sebanyak 2.635.

3. Anas bin Malik sebanyak 2.286 buah hadits.

4. Aisyah Ummi al-Mukminin sebanyak 2.210 buah hadits.

5. Abdullah bin Abbas sebanyak 1.560 buah hadits.

6. Jabir bin Abdullah sebanyak 1.540 buah hadits.


Pada masa Ali bin Abi Thalib, periwayatan hadits juga tidak begitu banyak karena pada masa ini banyak terjadi konflik dan perpecahan umat Islam akibat konflik politik antara pendukung Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyyah. Akibat konflik inilah umat Islam terpecah menjadi 3 (tiga) golongan:

1. Khawarij yaitu golongan pemberontak yang tidak setuju dengan perdamaian (tahkim) antara dua kelompok yang sedang bertikai, Kelompok ini pada awalnya mendukung Ali bin Abi Thalib, akan tetapi kemudian mereka keluar karena mereka tidak setuju dengan Ali bin Abi Thalib yang menerima perdamaian antara kedua golongan tersebut.

2. Syiah yaitu pendukung setia terhadap Ali bin Abi Thalib. Diantara mereka fanatik dan terjadi pengkultusan terhadap Ali bin Abi Thalib.

3. Jumhur Muslimin, Diantara mereka ada yang mendukung Ali bin Abi Thalib, ada juga yang mendukung Mu’awiyah, dan ada pula yang netral dan tidak mau melibatkan diri dalam kancah politik.

Akibat pertikaian ini, banyak pihak yang tidak bertanggung jawab berani membuat hadits palsu (Maudhu’) dengan tujuan ingin mengklaim bahwa dirinya yang paling benar diantara golongan/kelompok dan ingin mencari dukungan dari umat Islam. Akhirnya dengan adanya pemalsuan hadits ini para Ulama kemudian mengadakan kunjungan ke berbagai daerah dalam rangka untuk mengecek kebenaran hadits yang telah sampai kepada mereka baik dari segi matan maupun sanad.

Selain untuk mengecek hadits, mereka juga sekaligus mencari ilmu kepada para Sahabat senior pasca Khulafaur Rasyidin (41-98 H). Para sahabat senior waktu itu banyak yang pindah ke berbagai daerah yang sudah dikuasai oleh Islam. Daerah-daerah yang sudah dikuasai Islam itu diantaranya Syam (sekarang Suriah, Palestina dan Yordania) dan Irak (17 H), Mesir (20 H), Persia (21 H), Samarkand (56 H), dan Andalusia/Spanyol (93 H).

Setelah kunjungan/perlawatan selesai, mereka kemudian menyampaikan hasil kunjungan tersebut kepada umat Islam secara transparan. Demikian perhatian para Ulama terhadap hadits, mereka rela mengorbankan harta benda dan meninggalkan kampung halamannya beberapa hari demi mencari ilmu.


C. Perkembangan Hadits Pada Masa Tabi’in

Pada periode ini dikenal dengan Masa Pengkodifikasian Hadits (al-Jam’u wa at-tadwin). Pada masa ini Al-Qur'an sudah dikumpulkan dalam satu mushaf oleh para sahabat Khulafaur Rasyidin sehingga para Tabi’in berbondong-bondong belajar Al-Qur’an dan Hadits pada mereka.

Pada masa ini wilayah Islam semakin luas sejak kekuasaan Islam dipegang oleh Kekhalifahan Umayyah/Bani Umayyah. Seiring dengan pesatnya perluasaan kekuasaan Islam tersebut, penyebaran sahabat ke daerah-daerah kekuasaan Islam juga semakin meningkat.

Hadits-hadits yang diterima para tabi'in dari para sahabat senior ini terkumpul dalam bentuk catatan-catatan atau tulisan-tulisan dan ada yang harus dihafal, disamping dalam bentuk yang sudah terpolakan dalam ibadah dan amaliah para sahabat yang mereka saksikan dan mereka ikuti. Kedua ini saling melengkapi, sehingga tidak ada satu hadits pun yang tercecer atau terlupakan.

Seiring berjalannya waktu mulai pada abad pertama perkembangan hadits, sebagian perawi mencatat hadits-hadits dari para pendahulunya, sedangkan yang lain tidak mencatatnya. Dalam meriwayatkannya mereka berpegang pada ingatan dan kekuatan hafalannya. Keadaan demikian terus berlangsung hingga sampailah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Melihat perkembangan hadits seperti itu Khalifah Umar bin Abdul Aziz (99-101 H) menganggap perlunya untuk segera melakukan penghimpunan dan pembukuan hadits. Beliau sangat khawatir lenyapnya ajaran-ajaran Nabi setelah ditinggal wafat oleh para Ulama’ baik dari kalangan para sahabat dan Tabi’in.

Untuk itu beliau Khalifah Umar bin Abdul Aziz menginstruksikan kepada para gubernur di semua wilayah Islam untuk segera menghimpun dan membukukan Hadits Nabi SAW. Beliau kemudian menulis sepucuk surat yang dikirim kepada Ibnu Hazm (gubernur Madinah). Isi surat tersebut yaitu: “Tulislah kepadaku apa yang tetap padamu dari hadits Rasulullah SAW, sesungguhnya aku khawatir hilangnya ilmu dan wafatnya para Ulama”.

Mengenai kepastian siapa ulama yang lebih dahulu melaksanakan instruksi Khalifah Umar bin Abdul Aziz ini belum dapat diketahui. Ada berbagai pendapat dikalangan para Ulama. Akan tetapi yang paling masyhur adalah Muhammad bin Muslim bin Asy-Syihab Az-Zuhri sedangkan Ibnu Hazm adalah orang yang melaksanakan tugas untuk menyampaikan Khalifah ke seluruh negeri Kekuasaan Islam dan belum melakukan kodifikasi Hadits.

Berdasarkan fakta sejarah, aktifitas penghimpunan dan pengkodifikasian hadits baru tersebar di berbagai Negeri Islam pada abad ke-2 H. Dan mencapai kejayaannya atau masa keemasan pada periode tabi' tabi'in pada abad ke III dan ke IV.


Kesimpulan

Sejarah hadits pra kodifikasi ini terbagi menjadi beberapa bagian, untuk lebih mudah memahaminya, kami akan meringkasnya menjadi beberapa uraian berikut ini:

1. Dalam periode Nabi Muhammad SAW, beliau dalam menyampaikan hadits di berbagai tempat diantaranya di berbagai majlis-majlis, masjid, rumah beliau, pasar (ketika dalam perjalanan), ceramah dan pidato di tempat-tempat terbuka. Pada waktu itu penulisan hadits masih sangat terbatas disamping Rasul sendiri juga yang melarangnya. Ketika itu pula  para sahabat masih mengandalkan hafalan, namun ada juga yang menulisnya akan tetapi diperuntukan untuk dirinya sendiri sebagai media untuk menghafalkan dan tidak untuk disebarluaskan kepada orang lain.

2. Dalam periode sahabat juga belum ada pembukuan atau penulisan hadits secara resmi. Hal ini dikarenakan masyarakat pada saat itu masih banyak yang belum mengenal Al-Qur’an sebagai syariat, serta para sahabat lebih selektif dan berhati-hati dalam memilih hadits, menguji kebenaran hadits tersebut terlebih dahulu karena pada waktu itu sudah mulai muncul berbagai hadits palsu oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab pasca pertikaian Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyyah dengan tujuan mengukuhkan atau mempertahankan kekuasaan. selain itu juga kekhawatiran dari para sahabat jika membukukan atau menuliskan hadits maka akan membuat umat Islam hanya membaca hadits saja dan meninggalkan Alqur'an.

3. Pada periode Tabi’in juga belum dilakukan pembukuan dan penulisan hadits secara resmi. Penulisan hadits secara resmi baru dilakukan pada generasi tabi’tabi’in (abad ke-2 H) walaupun pada akhir abad ke-1 H instruksi penghimpunan hadits sudah diinstruksikan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz.



DAFTAR PUSTAKA


Khon, Abdul Majid. Ulumul Hadis. Jakarta: AMZAH, 2011.

Solahudin, M.Agus dan Agus Suyadi. Ulumul Hadis. Bandung: Pustaka Setia, 2011.

www.republika.co.id

www.muslim.nu.or.id

Posting Komentar untuk "Ulumul Hadits, Perkembangan Hadits pada masa Rasulullah, Sahabat, dan Tabi'in."